Kado Romantis

Dibing, boding, dibo-dibo ding
๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ

Pernah mendengar “mantra” tersebut? Yang sering menonton serial “Dibo, the Gift Dragon,” pasti tahu. Itu lhoo, naga yang selalu memberi hadiah kepada teman-temannya. Jadi, kalau teman Dibo mengucap mantra tersebut, Dibo pun datang dan memberi hadiah sesuai wish mereka. Namun, Dibo selalu memberi hadiah yang tidak biasa, selalu ada pembelajaran yang diberikan melalui hadiah tersebut. Sekarang, saya juga mau berbagi mengenai hadiah, bukan yang saya berikan, melainkan yang saya terima.

Oya, hampir lupa memberi salam, langsung nyerocos aja, hehe. Assalamualaykum, bagaimana kabar teman semua? Bagaimana perasaan teman hari ini? Semoga tetap dan makin luar biasa! Alhamdulillah, saya dan teman semua berjumpa kembali dengan Jumat. Hari penuh berkah, hari memberi, dan hari berbagi. Seperti yang saya utarakan tadi, sekarang saya akan berbagi mengenai hadiah yang pernah saya terima, bukan hadiahnya lho ya, hehe. Tidak banyak, hanya tiga hadiah, tetapi hadiah tersebut adalah hadiah paling “pas” buat saya. Apa hadiah yang saya maksud? Tet terereeet…

Cinta ya? Hehe, bukan. Namun, saya tahu pasti, para pemberi hadiah tersebut memberikan hadiah yang saya maksud dengan dasar cinta. Anak? Kalau anak, lebih dari sekadar hadiah. Ia anugerah, bukti cinta Sang Maha Penyayang. Semua hadiah yang saya ceritakan di sini berupa benda. Konkret, bukan sesuatu yang abstrak.

Hadiah pertama, sebuah cermin kecil, tidak lebih besar dari cetakan foto ukuran 2 R. Cermin tersebut pemberian sahabat saya, Rina. Ia memberikan cermin tersebut ketika kami SMA. Ia memberikan cermin tersebut karena tahu sahabatnya ini gemar bercermin, saya pikir demikian. Di tengah pelajaran pun, tetap bercermin. Sayangnya, saat itu saya belum menyadari, bahwa cermin yang diberikan oleh Rina juga dapat saya gunakan untuk lebih mengenal diri saya. Saya tidak pernah melihat jauh ke dalam cermin tersebut. Hanya menggunakan cermin tersebut untuk mengamati wajah saya, yang relatif standarย  ๐Ÿ˜›. Meskipun demikian, saya selalu tersenyum ketika bercermin menggunakan cermin tersebut. Ya, saya selalu memasang tampang paling manis ketika mengamati bayangan di cermin tersebut, walaupun saya tahu, tidak ada yang berubah dari wajah saya: tetap standar, hehehe. Sekarang, cermin tersebut sudah hilang. Namun, kenangan dan pelajaran dari cermin tersebut masih bersama saya, masih saya bawa ke mana-mana. Terima kasih, Na, sahabatku. Cermin yang dahulu kau berikan, dapat saya gunakan untuk belajar mengenal diri saya–walaupun baru sekarang saya mengerti cara menggunakan cermin tersebut, saat cermin tersebut sudah hilang. Terima kasih sudah memberikan benda yang saya suka, yang membuat saya selalu ingin tersenyum ketika menggunakannya ๐Ÿ˜œ. Terima kasih sudah memberi hadiah walaupun saya tidak sedang berulang tahun. Dan, terima kasih sudah hadir dan memberi warna dalam hidup saya.

pocket-mirror-1424640

Foto hanya ilustrasi, cermin asli dari Rina sudah di negeri antah berantah & tidak ketahuan rimbanya. Sumber foto: FreeImages.com

Hadiah kedua, kosmetik. Lipstik dan maskara yang diberikan oleh sahabat saya sejak SMP, Vita.ย  Kosmetik yang ia kirimkanย  sebagai hadiah ultah saya baru-baru ini juga dibarengi dengan katalog produk MLM yang ia ikuti, luar biasa, bukan? Hehehe. Dari hadiah yang Vita berikan, saya lebih mengenal diri saya. Saya tahu, saya kadang tidak PD tanpa maskara. Dengan maskara, saya merasa lebih ok. Tanpa lipstik, saya merasa kusut, tidak segar, apalagi warna asli bibir saya hitam-kebiruan. FYI, saya bukan perokok. Warna hitam-kebiruan bibir saya genetik, udah dari sononya ๐Ÿ˜›. Ternyata, saya senang menggunakan “topeng”. Bukan Topeng anak buah suami saya, yang sebentar-sebentar saya panggil untuk menolong saya, ya, hehe. Saya selalu ingin tampil cantik–padahal, kembali lagi, kata cermin dari Rina, wajah saya tetap standar, hehehe. Saya lupa untuk memulas maskara pada hati saya, agar niat menebar manfaat semakin tebal dan “lentik”. Saya lupa memulas lipstik pada perasaan saya, agar selalu melakukan semua hal dengan cinta.

cosmetics-1414969-1599x1066

Kosmetik pada foto di atas juga cuma ilustrasi. Masih sama, foto saya ambil dari FreeImages.com.ย 

Katalog yang Vita berikan pun memberi pelajaran sendiri tentang diri saya. Saya tahu, saya sering lapar mata, membeli sesuatu yang tidak saya perlu. Namun, dari katalog tersebut, saya juga belajar tentang arti pantang menyerah. Saya pikir, saya sudah cukup pantang menyerah, ternyata saya masih kalah pantang menyerah sama Vita. Coba aja, tiap bulan mengirimi saya katalog, padahal belum tentu juga saya membeli produk tersebut, apalagi ikut menjadi member ๐Ÿ˜œ.

image

Katalog, bukti cinta Si Pantang Menyerah ๐Ÿ˜ค๐Ÿ˜œ.

Terima kasih Vita, sudah memberi saya hadiah yang membuat saya sadar bahwa bukan hanya fisik yang harus didandani, melainkan juga hati dan perasaan saya. Terima kasih Vita, sudah memberi saya hadiah yang membuat saya mengerti arti perjuangan dan pantang menyerah yang sesungguhnya. Terima kasih Vita, sudah hadir dan terus menemani saya hingga kini.

Hadiah ketiga, yang paling luar biasa, datang dari suami saya. Hadiah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hadiah termahal sepanjang sejarah pernikahan kami. Sebuah tiket. Bukan tiket Maroon 5 (padahal mupeng juga ๐Ÿ˜œ). Bukan juga tiket naik kapal pesiar supermewah (kalau itu, supermupeng, hehehe). Bukan juga tiket menuju Baitullah (yang ini, super duper mupeenggg, coming soon ah, aamiin). Lalu, tiket apakah itu? Eeng-ing-eng… ternyata, tiket training, saudara-saudara! Ya, sebuah tiket training di salah satu hotel yang terbilang mewah di selatan Jakarta.

Namun, itu tiket bukan sembarang tiket. Tiket tersebut menyeret saya masuk ke satu dunia, yang selama ini sangat dekat dengan diri saya, tetapi saya tidak mau berkenalan lebih dalam dengannya, apalagi untuk menerimanya. Dunia itu, diri saya sendiri. Lewat sebuah tiket, saya mempelajari banyak hal tentang diri saya sendiri. Lewat tiket tersebut, saya bertemu komunitas berisikan orang positif, bahkan sangat hebat, yang masih mau terus belajar hingga usia senja. Itu adalah tiket yang membuat kegalauan saya pergi, yang membuat saya fokus, dan membuang rasa bosan saya yang sempat stuck in a moment (kaya lagu u2 aja ya, hehe). Tiket yang luar biasa!

image

Buah manis dari tiket yang paling romantis #VAT 33. (DOK PRANALA MAGDI DAYA).

Terima kasih suamiku, sudah memberi saya tiket yang membuat saya belajar dan menerima, serta–yang terpenting–berdamai dengan diri saya. Tiket darimu melengkapi cermin dan kosmetik yang diberikan oleh dua sahabatku. Terima kasih, sudah memberiku tiket yang membuatku tercebur dalam arus positif. Dan, suamiku sayang, terima kasih selalu hadir dan berjuang demi kebahagiaanku. Terima kasih, karena pada akhirnya aku mampu mengatakan, “I need you, because I love you.” Oya, ditunggu tiket training selanjutnya, #WBT17 oke juga, hehe ๐Ÿ˜œ.

Itu tiga hadiah romantis versi saya, kalau versi kamu?

Berharap bermanfaat :).
Assalamualaykum…

Advertisements

Perawat: Kontribusi, Bukan Sekadar Profesi

Nursing is caring, not curing

Mari sejenak bermain tanya-jawab cepat. Ketika saya menyebut kata “perawat”, apa yang (langsung) terbersit dalam benak Anda? Seseorang berbaju putih-putih dengan cap di kepala? Seseorang bertampang (maaf) jutek saat merawat Anda ketika Anda masuk RS? Seseorang yang meminta Anda untuk lebih dahulu melunasi biaya administrasi sebelum memberi perawatan kepada Anda atau keluarga Anda? (Jika jawaban Anda sama dengan jawaban terakhir, dapat dipastikan Anda korban tayangan sinetron, hehe). Atau, ada jawaban lain? Silakan diungkapkan.

Kalau ditanya apa itu perawat, saya (ingin) mengatakan dengan lantang, “SAYA!” Ya, saya seorang perawat, dan saya bangga akan hal itu, sumpah deh takewer-kewer 😆. Namun, masih bolehkah saya mengaku perawat, sementara saya sama sekali tidak terjun langsung merawat pasien sebagaimana kebanyakan perawat lain? Pantaskah saya mengklaim diri sebagai seorang perawat, sementara saya lebih banyak mengolah kata ketimbang merawat pasien? Apa sebenarnya esensi “perawat” dan “keperawatan” itu?

Kembali lagi ke kata bijak yang dahulu sering tergaung ketika saya kuliah, “nursing is caring, not curing.” Hingga kini, kata-kata tersebut masih terpatri dalam sistem limbik saya. Betapa saya selalu terpesona dengan konsep tersebut. Caring, instead of curing. Sebuah definisi yang cukup luas, dalam pandangan saya. Berangkat dari persepsi saya mengenai kata bijak tersebut, saya pun, yang notabene lulusan sekolah keperawatan, mengamini bahwa perawat tidak melulu seorang tenaga kesehatan yang terjun langsung merawat pasien di rumah sakit atau klinik. Bukan pula seorang dosen yang dengan sabar mendidik para calon perawat semata. Bukan juga sekadar seorang advokat yang membela hak pasien mereka. Juga bukan seorang yang mengabdikan diri pada masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, bukan sekadar kesehatan, mereka semata. Bukan… bukan… perawat, bagi saya, lebih dari itu.

Perawat, lahir dari “orang tua” yang serupa, kampus/fakultas keperawatan. Namun, setelah “dewasa”, mereka pun memilih jalan masing-masing, masih dengan landasan yang sama, caring. Jadi, apakah caring hanya dapat diterapkan oleh mereka yang memilih menjadi pelaksana di tatanan klinis saja? Apakah perawat harus terkungkung dalam satu kotak, dunia pelayanan atau pendidikan semata? Buat saya, tentu saja tidak!

Mereka yang mengabdikan diri demi mempertahankan hidup pasien mereka dengan mengoperasikan mesin pengganti jantung, juga perawat. Dengan caring, mereka sekuat tenaga mengoperasikan mesin tersebut demi wellness si pasien. Mereka yang memilih menerjemahkan dan mengedit buku keperawatan (saya… saya… 😆) demi menunjang pembelajaran di kelas maupun di klinik, juga perawat. Dengan caring, mereka mengolah kata demi memfasilitasi mahasiswa, dosen, bahkan perawat, untuk lebih memahami ilmu terkini dengan bahasa yang ramah-pembaca. Bahkan, mereka yang memilih menjadi stay at home mom (SAHM) juga perawat. Dengan caring, mereka mengurus suami, mengasuh anak, dan mengatur rumah mereka. Mereka yang memilih menjadi enterpreneur, juga perawat. Dengan caring, mereka menciptakan produk sehat untuk konsumen mereka. Dengan caring, mereka pun memberikan jasa sesuai kebutuhan unik konsumen mereka. Mereka yang memberikan training di sekolah, perusahaan, maupun lembaga sosial, pun tetap saya sebut perawat. Dengan caring, mereka membuka blok diri menti mereka, demi menjadi pribadi yang “naik level”. Masih banyak lagiย  “mereka” lain yang tidak dapat saya tuliskan satu per satu di sini. Perlu dicatat, “mereka” yang saya sebut perawat di sini bukan sembarang “mereka” lho; mereka adalah para lulusan disiplin keperawatan.

Perawat itu luar biasa, bukan? Ilmu keperawatan adalah ilmu yang holistik, yang dapat diterapkan pada semua aspek kehidupan. Jika keperawatan berprinsip caring, boleh dong lulusan perawat yang memilih berkontribusi di luar klinik menyandang status perawat? 😜 Di mana pun berada, apa pun peran yang dipilih, lulusan perawat tetap perawat, dengan prinsip caring yang selalu dibawa di mana pun mereka berperan. Bukankah kontribusi lebih dari sekadar profesi? Happy International Nurse’s Day. Bravo keperawatan! 😍😍😍

Kiat Melejitkan Omzet Ala Suami

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di perdagangan (Hadits)

image

Wow! Tulisan wiRABUsaha kali ini saya awali dengan hadits–sesuatu banget ga, sih? Hehe, biasa saja kali yaa ๐Ÿ˜…. Rabu dan perdagangan, buat saya dan, terutama, suami saya, memang sangat erat kaitannya. Dahulu, ketika baru merintis usaha, Rabu adalah hari yang membuat suami saya deg-degan. Jangankan pas Rabu-nya, Selasa pagi pun sudah ketar-ketir. Mengapa demikian? Usut punya usut, ternyata Rabu adalah hari tagihan salesman yang memasok barang ke toko kami. Kok pake deg-degan segala? Hehe, jelas saja deg-degan, wong kami belum punya kas. Jangankan kas, wong kami saja tidak punya modal. Hah? Beneran tidak punya modal? Kok bisa buka toko? Alhamdulillah, iya kami tidak punya modal berupa uang, tetapi tetap bisa buka toko. Namun, soal kiat tersebut, suami saya yang lebih kompeten jadi tidak saya tuliskan di sini.

Balik lagi ke masalah tagihan. Kas ga punya, omset masih mepet–kan baru buka. Namun, deg-degan saja tidak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya, teman-teman tahu apa yang suami saya lakukan? Teterereett… Suami saya “kabur”, teman. Menghindar kalau salesman mau datang, tapi belum dapat uang. “Kabur” meninggalkan karyawan kami–yang saat itu baru satu– untuk speak-speak dengan si salesman. Namun, kabur bukan berarti tidak membayar tagihan lho ya, tagihan tetap kami bayar dengan transfer keesokan hari atau pada minggu yang sama, dengan mengabari terlebih dahulu, tentunya. Jadi, ada beban mental tersendiri ketika menghadapi salesman yang menagih, tetapi kita tidak dapat membayar. Bukan karena tidak mau membayar, tetapi karena memang tidak ada uang untuk membayar :'(. Biasanya, suami saya “kabur” ke warung kopi atau masjid di dekat toko. Sekarang, kalau masjid itu, masih dikunjungi, tetapi warung kopi itu, hampir tidak pernah dikunjungi lagi. Alhamdulillah, omzet kami sudah naik.

Omzet kami pun tidak naik secara otomatis. Ada perjuangan seru di dalamnya. Banyak belajar dengan mengikuti berbagai seminar wirausaha, membaca buku tentang bisnis dan rezeki, dan menerapkan ilmu tersebut dalam usaha kami. Kami (terutama suami) banyak belajar dari mas Ippho Santosa dan kek Jamil Azzaini, mas Mono, dan beberapa pengusaha sukses lain. Saya yang lebih rajin mantengin TL mereka, lalu saya sampaikan ke suami. Jadi, kiat melejitkan omzetnya dengan mantengin TL, gitu? Hehe, ya ngga lah. Ngikut seminar atau baca buku doang? Bukannnn, masa segampang itu, hehe.

Memang, banyak yang didapat dari belajar. Mendapat komunitas yang “segelombang”, juga membantu melejitkan omzet. Banyak ilmu dan kiat yang dibagi oleh para mentor yang mumpuni tadi. Tapi, bukan kiat sukses mereka yang akan saya bagi sekarang, melainkan kiat dari suami saya. Ternyata, diam-diam suami saya punya kiat jitu sendiri ๐Ÿ˜Ž. Wow!

Kiat melejitkan omzet ala suami saya adalah dengan sedekah. Ah, itu mah sudah banyak diungkapkan para ahli. Hehe, benar demikian, tetapi yang disedekahkan suami saya berbeda. Waktu. Itu yang ia sedekahkan. Jadi, setelah berdiskusi dengan saya, suami saya punya program sedekah waktu setiap Jumat. Hari Jumat ia dedikasikan untuk orang lain, contoh konkretnya, ia membantu menjaga toko kakak saya setiap Jumat. Jumat lain, ia berencana mendermakan waktunya untuk membantu ayah saya di warung. Begitu seterusnya, hingga, minimal, keluarga besar kami merasakan manfaat atas kehadirannya. Hasilnya? Omzet kami, alhamdulillah, melejit.

Tentu saja, kiat tersebut harus dibarengi dengan usaha yang giat, sayang orang tua dan pasangan, sedekah, serta rutin belajar. Itu kiat sederhana versi suami saya, bagaimana versi teman semua? Selamat melejitkan omz Continue reading

Menyunting & Menerjemah: Berkarya, Bukan Berkerja

Bekerja sesuai passion bukan sekadar bekerja, melainkan berkarya.

image

Selasa, ditemani anak yang baru pulih dari sakit flu membandel, saya mengerjakan tugas saya. Saat ini, sudah tahun kesembilan saya menggeluti dunia yang saya tetapkan sebagai passion saya, dunia penerbitan. Bukan di bagian produksi, melainkan di bidang pra-produksi; bagian pengolahan naskah sebelum menjadi buku. Saat ini, saya memang tidak lagi bekerja di kantor. Dua ribu lima belas, tahun ketiga saya memutuskan untuk menjadi stay at home mom (SAHM).

Eits, nanti dulu… di sini saya bukan mau membandingkan ibu bekerja dengan SAHM lho ya, bukan kapasitas saya menuliskan itu walaupun saya sudah merasakan keduanya. Jadi, mau menuliskan apa, dong? Di sini, saya mau bercerita mengenai pengalaman saya sebagai SAHM yang berkarya sesuai passion saya.

Menjadi SAHM dan tetap produktif, mengapa tidak? MLM ya? Hehe, bukan… bukan… Bisnis sendiri? Belum… doain ya agar segera menyusul jejak orang tua dan suami. Saya masih “kerja” di perusahaan lama kok, mengandalkan kegemaran saya mengolah kata. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dikaruniai keterampilan tersebut. Saya penulis? Yes, I will be (aamiin). Kalau sekarang, masih a wanna-be writer :). Sebagai freelance editor/translator, saya sangat bersyukur masih dapat berkarya meskipun sudah tidak lagi pulang-pergi ngantor.

“Bekerja” di rumah, seperti yang saya jalankan sekarang, jauh dari kata mudah. Waktu dan disiplin diri menjadi tantangan terbesar buat saya. Membagi waktu antara mengurus suami, mengasuh anak, mengurus rumah, dan memenuhi deadline bukan hal sepele. Belum lagi, tuntutan disiplin yang tentu saja menjadi tantangan tersendiri buat saya yang moody. Wuih, perjuangannya seru deh. Sering kali, saya santai di awal mendapat job, dan baru “kelojotan” ketika sudah mendekati deadline. Makanya, untuk job kali ini, saya meminta kontrak deadline dari awal, agar lebih mudah membagi waktu. Namun, tetap saja, terlalu banyak godaan di rumah, hehe. Disiplin diri itu menuntut komitmen, Jendral! 😆

Adakalanya, saya ingin berhenti mengemban tugas ini. Namun, ketikaย  ditawarkan job mengedit/menerjemahkan, saya sulit menolak. Honornya gede, ya? Hmm, relatif sih ya, relatif kecil 😆. Ngga kecil ding, lumayan lah buat menyenangkan diri sendiri โ˜บ. Terasa kecil kalau ga disyukuri, begitu kata orang bijak. Terus, kok masih mau mengerjakan tugas itu, memang masih kurang uang belanja dari suami? Pastinya nggak. Oh, buat bantu orang tua, ya? Bukan juga, alhamdulillah sampai sekarang orang tua saya masih produktif, usahanya lancar. Terus? Iya, ya, terus kok masih menekuni “profesi” ini?

Jawabnya, sederhana. Ini passion saya, dan buat saya, mengedit dan, terutama, menerjemahkan, adalah berkarya, bukan bekerja. Ada sesuatu yang saya hasilkan, sebuah buku. Walaupun bukan saya penulisnya, ada kepuasan tersendiri ketika melihat hasil “polesan” saya berjajar di rak toko buku. Bahagia bercampur bangga. Wah, baru mengedit dan menerjemahkan saja sudah begini rasanya, bagaimana kalau menulis sendiri, ya? Mudah-mudahan segera tahu bagaimana rasanya 😤. Selain itu, memoles buku saya harap dapat menjadi amal jariyah saya, aamiin. Honor adalah fadilah, atau efek samping yang menyenangkan dari profesi saya.

image

Buku Ajar Keperawatan Dasar; salah satu buku editan saya, dapat diperoleh di toko buku di kota Anda ;).

Itu “berkarya, bukan bekerja”, versi saya. Bagaimana dengan teman semua? Pasti seru juga ya, versinya. Apa pun itu, ketika berkarya, kita mengerjakannya dengan senang, tanpa banyak tuntutan atau harapan-imbalan. Lucunya, imbalan yang tidak kita harapkan tadi justru datang dengan sendirinya. Selamat berkarya, teman!

Berharap bermanfaat 😇.

Lagu dan Hujan

All I hear is raindrops, falling from the rooftop… (Tamia)

image

Sabtu sore, hujan, baru patah hati, ditemani Officially missing you-nya Tamia–wuiihhh, lengkap deh melankolianya :'(. Hayo, siapa yang pernah merasakan itu? Wah, kayanya banyak yang mengacung nih 😆. Seperti lirik lagu Tamia yang berlatar suasana hujan, saya pun punya cerita mengenai lagu dan hujan.

Lagu dan hujan, buat saya selalu memiliki kekuatan magic. Lagu dan hujan adalah perpaduan sempurna, yang kekuatannya mampu membolak-balik alam perasaan saya. Hujan selalu saja punya cerita, dan lagu melengkapinya dengan melodi indah yang membangkitkan rindu. Namun, itu dahulu…

Dahulu, setiap Sabtu saya selalu mendengarkan “rhythm of love” di Mustang FM. Acara yang mengudara setiap Sabtu, seharian penuh, dan –sesuai namanya — yang diputar lagu-lagu berirama sendu, berlirik melow, pokoknya full of “love” deh. Namanya juga anak muda 😆, setiap kali ada lagu yang gimana gitu, langsung saja menganggap itu lagu “gue banget”, pas bener 😅 gitu sama hidup saya (saat itu). Apalagi, saya termasuk wanita yang relatif sering gagal dalam menjalin hubungan 😭 (relatif lho ya) sehingga emosi saya langsung terbawa ketika mendengar lagu “gue banget” tadi. Sudah lagi melow, mendengarkan lagu slow, makin “low” lah. Ditambah, mendengarkan lagu tersebut ketika hujan… wow! Mejik… 😆

Namun, emosi dalam sebuah lagu tidak melulu saya rasakan ketika patah hati. Memang, harus diakui, ketika patah hati, jadi banyak lagu yang “mewakili” perasaan kita, eh saya. Ketika jatuh cinta pun, saya punya “OST”. Bahkan, untuk lagu yang mengandung kenangan semasa saya sekolah dan kuliah pun, saya punya OST juga. Berhubung saya tipe orang obskomp (obsesif-kompulsif; kapan-kapan saya ceritakan), saya pun menyusun playlist saya di dalam folder dengan lagu tematik, berdasarkan lirik/pesan lagu maupun berdasarkan waktu ketika lagu tersebut saya dengar (mis., saat SMA, saat kuliah, saat kos, dll). Pas lagi jatuh cinta sama si A, ada folder lagu yang isinya tentang kisah cinta yang “mirip” (atau dipaksa mirip 😅) dengan kisah saya bersama A. Ketika jalan sama si B, yang notabene “pria yang salah”, misalnya, ada juga folder khususnya. Lagu yang membangkitkan kenangan semasa SMA pun ada folder khususnya. Jadi, kalau mau mendengarkan lagu dengan tema tertentu, tinggal pilih folder saja. Seru ga? Nggak ya? Hehe.

Begitulah lagu. Kekuatannya begitu besar dalam memengaruhi alam perasaan kita, eh kok kita lagi, saya maksudnya 😅. Saat mendengar lagu, sistem limbik saya pun bekerja, membuka memori yang sudah lama saya simpan di dalam kotak bernama kenangan  *halah. Ingatan saya langsung mengembara, ke masa ketika lagu tersebut menjadi “OST” kisah hidup saya. Kalau kata Vitamin C dalam lagu Graduation, “This memories are playing like a film without sound.” Apalagi ditambah hujan, ajaib banget deh. Namun, itu dahulu…

Kok dahulu melulu? Ok, saatnya bercerita tentang here and now. Sekarang, lagu dan hujan sudah tidak terlalu berpengaruh terhadap alam perasaan saya. Bukan berarti saya sombong ya, kan saya wanita yang tidak sombong, ramah, sopan, baik hati, dan rajin menabung 😆 *apa, coba? Bukan pula berarti afek saya menjadi tumpul atau datar, atau justru saya euforia dengan hidup saya sekarang. Sepertinya, fase perkembangan saya yang mengikis magic si lagu dan hujan–menurut saya. Mungkin juga karena hormon saya yang plateu. Apa karena saya sudah berkeluarga? Sepertinya tidak, sebab kehidupan berkeluarga jauh lebih berwarna ketimbang cinta masa muda. Makin dewasa? Nggak juga. Hanya saja, saat ini, saya sudah melewati fase tersebut. Fase ketika (perasaan cinta) saya menjadi raja. Fase ketika dunia akan runtuh ketika saya tidak bersama Si X atau Q atau siapa pun (kalau kata suami saya, “ga bahagia kalau ga sama dia” 😅). Fase ketika semua hormon “tumpah”. Sekarang, kalau mendengar lagu tertentu lebih sering tersenyum kecil, kok bisa ya, (dahulu) saya segitunya? Hehe.

Apakah lagu dan hujan sudah kehilangan magic-nya? Tidak. Magic itu tetap ada, hanya respons saya saja yang sedikit “bergeser”, semoga ke arah yang tepat. Walaupun merasa lebih nyaman dengan respons saya yang sekarang, kadang, saya kangen juga sama perasaan tak-menentu yang ditimbulkan oleh lagu dan hujan. Lagu dan hujan, tetap ajaib dalam cara yang berbeda…

Selamat menikmati #romanSabtu bersama keluarga. Berharap bermanfaat.

Kiat Menggunting Kuku Anak

Kuku cantik, siapa yang tak mau
Kuku bersih, itu yang kita perlu

image

Wah, sudah Jumat lagi. Tidak terasa ya, teman? Buat saya dan keluarga, Jumat adalah waktunya bersih-bersih tubuh. Bukan berarti kami tidak bersih-bersih di hari lain, lho. Hanya saja, di Jumat ada perawatan diri tambahan yang dilakukan, yaitu menggunting kuku. Hayo, siapa di sini yang enggan menggunting kuku? 😆

Sejak mengenal arti kebersihan diri yang sebenarnya *halah*, saya tidak pernah memanjangkan kuku saya. Di samping kuku saya berbentuk jengkol–ga ada cantik-cantiknya mau diapain juga 😅–saya juga bukan tipe wanita yang telaten merawat kuku. Jadi, kuku saya selalu saya pertahankan pendek. Berdasarkan sumber referensi yang saya baca, kuku panjang juga dapat menjadi sarang kuman, di samping dapat melukai diri sendiri maupun orang lain.

Saya tidak terlalu ingat mengenai kuku saya di masa kecil. Sepertinya sih hitam-hitam gitu di ujungnya, mengingat waktu kecil saya jorok. Bermain di got (mencari encu, itu lho sejenis hewan got yang kecil seperti cacing, tetapi halus), memanjat pohon, bermain pasir dan tanah, dll., pokoknya jorok deh 😅. Pakaian saya pun selalu kotor sepulang bermain.

Ketika punya anak, tentu saja saya ingin anak saya lebih baik dari saya, tidak terkecuali dalam hal perawatan diri. Buat saya, anak tidak perlu putih (mau putih dari mana kalau ibu-bapaknya “berkelir” gini ya? Hehe), yang penting bersih dan sehat. Saya pun membiasakan anak saya untuk menggunting kuku setiap Jumat. Alhamdulillah, saya tidak mengalami kesulitan dalam menggunting kuku anak saya. Kiat berikut dapat teman lakukan untuk membuat menggunting kuku anak lebih mudah.

Pertama, perkenalkan anak dengan gunting kuku. Biarkan anak menyentuh dan mengeksplorasi gunting kuku, dengan tetap diawasi tentunya. Jawab semua keingintahuan anak mengenai gunting kuku tersebut, dan jelaskan fungsinya.

Kedua, beri contoh langsung. Gunting kuku Anda di depan anak Anda. Perlihatkan bahwa menggunting kuku tidak sakit dan kuku terasa nyaman (misalnya, tidak lagi tajam saat menggaruk) setelah digunting.

Ketiga, kontrak. Jangan lupa kontrak anak sebelum menggunting kuku. Katakan pada anak bahwa kita akan menggunting kukunya dengan gunting kuku yang ia mainkan tadi. Jelaskan juga tujuan menggunting kuku, misalnya, agar kuman mati dan cacing pergi. Katakan juga bahwa menggunting kuku tidak sakit, seperti yang tadi anak lihat pada kiat sebelumnya. Pilih kata-kata yang sesuai dengan perkembangan anak.

Keempat, biasakan anak tahu kita menggunting kukunya. Sejak bayi, anak saya selalu saya gunting kukunya saat terjaga, bukan saat tidur. Tujuannya, agar ia terbiasa dan merasakan bahwa digunting kuku tidak sakit.

Kelima, saya biasa menggunting kuku anak sambil mandi. Kuku yang basah/sudah terendam biasanya lebih lunak sehingga kita lebih mudah menggunting kuku anak. Di samping itu, mandi merupakan momen yang disukai anak saya. Namun, hati-hati, jangan sampai momen menyenangkan anak “rusak” gara-gara Anda tidak sengaja “menyakiti” anak ketika menggunting kuku.

Keenam, ciptakan suasana menyenangkan ketika menggunting kuku. Gunakan cerita kesukaan anak, ceritakan kepada anak bahwa tokoh yang ia suka dalam cerita tersebut pun selalu menggunting kuku. Pangku anak agar ia merasa nyaman, sekaligus memudahkan kita mengendalikan gerakan anak.

Ketujuh, ajak anak bermain peran. Kita dapat mencontohkan proses menggunting kuku dengan boneka atau action figure koleksi anak. Biarkan anak juga melakukan role play tersebut. Setelahnya, gantian, tinggal menggunting kuku anak.

image

Memberi contoh proses menggunting kuku menggunakan mainan kesukaan anak. Tambahkan cerita dengan mengisi suara mainan anak tentang proses menggunting kuku yang menyenangkan. Rasakan serunya! 😁

image

Melibatkan anak dalam bermain peran. (Anak saya kooperatif, ya? 😆)

Itu saja kiat umum dari saya. Setiap anak unik, dan ibu paling tahu pendekatan yang paling cocok untuk mereka.

Berharap bermanfaat ๐Ÿ™‚

Kamis Menulis

Kalau kamu suka membaca, mulailah menulis — Raditya Dika.

Kemarin, ma bedundung sekonyong-konyong muncul gagasan untuk menjadikan hari Kamis sebagai hari menulis di keluarga kami. Apa saja, yang penting menulis. Medianya pun bebas, boleh di kertas, buku, atau blog. Tujuannya, membiasakan menulis, sebab menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, menulis menyehatkan. Hidup sehat dengan kebiasaan menulis, mengapa tidak?

Untuk Kamis Menulis kali ini, saya ingin bercerita mengenai masa sekolah saya. Saya tidak TK, begitu masuk usia sekolah, saya langsung SD. Ketika masuk SD, saya sudah dapat membaca. Saya belajar mengenal huruf dan membaca dari sebuah suplemen di harian Pos Kota: Lembergar (Lembaran Bergambar). Di Lembergar, ada kumpulan komik lokal pendek dengan tokoh Doyok, Ali Oncom, Otoy, Ucha, dll. Sebenarnya, memang tidak sesuai usia saya saat itu, tetapi berhubung hanya ada itu di rumah, ya dinikmati saja :). Senang melihat gambar warna-warni, saya pun ingin dapat membaca tulisan yang ada di Lembergar tersebut. Saya belajar dari ibu dan bapak saya.

Sejak SD, saya paling senang ditugaskan mengarang. Walaupun sederhana, dengan kalimat pembuka yang nyaris selalu sama (“Pada suatu hari…”), karangan saya hampir selalu mendapat nilai bagus. Mungkin karena saya begitu menikmati proses mengarang tersebut. Ketika mengarang, saya bebas menuangkan imajinasi saya. Mengarang memang menyenangkan, walaupun bahasa Indonesia bukan pelajaran favorit saya.

Masih seputar mengarang, ketika SMA, saya pernah ditugaskan membuat kerangka karangan. Ternyata, mandek. Saya tidak dapat menulis lancar sebagaimana ketika mengarang tanpa membuat kerangka terlebih dahulu. Waktu terus berjalan, tugas pun harus dikumpulkan. Akhirnya, saya balik, saya buat karangan terlebih dahulu, baru membuat kerangkanya. Lancar 😅. Pemikir acak seperti saya memang sedikit kesulitan untuk membuat sesuatu yang terstruktur. Membiarkan imajinasi saya melayang tanpa harus dibatasi keteraturan membuat saya lebih mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah, tidak ada lagi pelajaran mengarang. Namun, ada banyak tugas bermain peran (role play). Imajinasi saya kembali tumpah. Saya tuang imajinasi saya dalam bentuk skenario untuk bermain peran. Hasilnya, tidak buruk, pesan tersampaikan, walaupun kadang ide saya konyol, dengan pilihan nama tokoh yang terkadang lucu. Saat ujian pun, saya sangat menantikan soal esai. Menyenangkan sekali dapat menuangkan semua isi kepala saya. Soal esai pun tidak “menuntut” hapalan, melainkan ranah, minimal, pemahaman. Saya tidak suka menghapal :).

Lepas kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan penerbitan, sebagai editor. Cocok! Dihadapkan dengan naskah mentah, dengan gembira saya mengolahnya dengan pilihan kata saya. Di awal masa kerja (ketika training), saya banyak “melewatkan” tanda baca yang sesuai EYD. Masih acak, sulit teratur :mrgreen:. Namun, lambat laun, saya menjadi lebih peka terhadap tulisan, hingga kenikmatan membaca saya pun hilang (kapan-kapan saya bagi pengalaman saya mengenai itu).

Yap, segitu dahulu Kamis Menulis dari saya. Mudah-mudahan suami saya sudah menulis juga. Kalau anak, berhubung belum mengenal huruf, saya minta ia menuangkan imajinasi dalam bentuk gambar. Ia menggambar kereta, dengan palang perlintasan. Berikut penampakannya.

image

Selamat menulis, teman. Berharap bermanfaat ๐Ÿ™‚